hruk pkuk bhsa t'dngar mrdu,tnd tnya b'jmpa jwbn2 kbtulan,ada sbuah p'tnda yg mnyeimbangkan keindahan
Minggu, 05 Mei 2013
Fajar baru menghamparkan jubah emasnya ke atas
bumi,menyematkan kancing keemasan matahari ke telinga
langit,menyingkirkan bintang-bintang dalam sekejap.
Lihat itu,ia berjalan menyusuri pekarangan Student Centre IAIN IMAM BONJOL menuju gerbang kampus.Bersamanya dirasakannya sakitnya anak panah gunjingan dan cemoohan para senior yang mengenalinya.
Dengarlah petir menyambar-nyambar , memaki-maki bumi atas kebodohannya menghalau gelap,karena angin menyanyikan kasidah sunyinya dalam derunya.Namun dapatkahhujan melepas dahaga bumi pada pemujaan yang tiada henti.
Hingga setibanya di depan gerbang kampus,ia hendak menyetop angkutan kota,namun tak satupun yang berhenti.sampai secarakebetulan,ada penumpang yang ingin menaiki angkutan kota itu juga tak pelak lagi,serta merta ia menyerobot masuk menyesaki angkutan kota tersebut.
Tak ayal lagi,wajah sang pengemudi pun berubah.Ia takut akan kehilangan penghasilannya sebesar dua ribu rupiah.Ia duduk saja memandangi pemandangan musykil di kanan kiri jalan,tanpa menghiraukan pandangan penumpang-penumpang lainnya yang takut dan menghindarinya.
Sekali lagi di pasir beruban yang tak tersucikan,bukan maksudnya memulihkan dendam,karena memang daratan yang dulu memenggal hasrat lidah gelombang,namun bah telah melanda kota merah itu,begitu galaknya gelombang ombak tsunami itu memporak-porandakan,memusnahka n puing-puing yang dipikirnya dapat merekat,tersatukan kembali.
Inilah mungkin negeri yang tak terhimpun oleh kepala,hanya jerit.O. . . .alangkah indahnya dan nikmatnya nyeri yang menyelimuti suatu siang itu. . . .
Aku masih saja membuntutinya,memperhatikan gerak-geriknya hingga akhirnya ia pun turun di Taman Imam Bonjol.Ia berjalan mengitari padang hijau yang tetap hijau meski diterpa sinar matahari masih saja ia berjalan menawarkan payung kebeberapa pengunjung dan meminta uang sebesar seribu rupiah.Kontan saja para pengunjung bergidik geli dan memberikan saja uang sebesar seribu rupiah tanpa berhasrat untuk dipayungi olehnya.
Angin mengerat pepohonan palam,bergumam gamang di tengah sesal terakhir.Tangis karang mengabur karang tak menyatu dengan pasir langit,tak terkikis kelam.Tak akan menagis di tengah karang.
Ia kelelahan,berteduh di dahan yang rindang,namun seluruh ujung tombak mengarah padanya,segerombolananak-anak datang dan bertanya nama,tempat tinggal,umur dan sebagainya.Ia memilih diam,membuka ventilasi agar udara segar masuk.Namun seluruh bau busuk menyatu dan menusuk hidung.lambat laun,sepertinya ia terusik hingga membuatnya berteriak tak karuan dan membubarkan kerumunan,dan ia pun dapat duduk tenang menikmati sepoi angin membelai-belai kulitnya yang kusam dan kotor,bercengkrama dengan Tuhannya.
Dilihatnya penghasilannya belum cukup walau untuk melepas dahaga dan laparnya.Ia bangkit dan berdiri mencari pengunjung yang ingin dipayungi olehnya.Namun ,ada seorang gadis yang tak ingin dipayungi,juga tidak memberinya uang.Ku lihat iasepertinya terus berusaha agar wanita tadi mau dipayungi dan memberi imbalan atas jasanya.
Sehingga ada seorang pengamen yang iseng mencoleknya,sontak saja ia menendang si pengamen dan langsung dibalas dengan pukulan gitar di daerah sekitar punggungnya.
Bukan karena bulan sabit mengarit rumputpada tanah yang kemarau ini.Tapi lidah tak bertali menjulur dari bongkahan tanah.
Tak menyerah sampai di situ,ia pun mencari pengunjung yang berhati mulia memberikan sebagian hartanya walau hanya seribu rupiah saja.
Akhirnya,ia temukan juga sekumpulan keluarga yang mungkin lagi syukuran di Taman Imam Bonjol Padang,jelas saja tak ayal lagi didatanginyalah sekumpulan keluarga tadi,dan lagi-lagi ia menawarkan payungnya kepada setiap orang tadi,namun dilarang,dan diajak makan bersama mereka.
Disantapnyalah nasi disiram dengan sup yang pada mangkioknya terpampang jelas label KFC,setelah lepas dahaga dan laparnya,ia pun berpamitan.Tanpa ia duga,ia mendapat beberapa uang seribuan dan dua ribuan dari beberapa pengunjung tersebut,dan juga oleh-oleh berupa roti dan ayam kentucky + nasi.
Benar-benar riang terpampang jelas di raut wajahnya,ia pun berjalan menuju jalan raya dan menyetop angkot,lagi-lagi ku ikuti dia dan aku pun ikut bersamanya duduk di sampingnya.
Sudah ku lipat tetesan senja dan keringat berasa akan ku titipkan padanya angin darat menua selipkan di biru langit yang diam,barangkali dia akan menjenguk sejenak tepian laut yang hambar garam.Karena lelahnya sudah demikian mengkarang tiap kali telanjang pandang dari bilik kebutaan tiap kali telanjang pandang dari bilik kebutaan pada arus kali yang turun dari lembah.
Ternyata ia pun turun di Taman Melati,sesampainya ia di sana,ia mencari mainan,diambilnya ranting pohon yang sudah ditebang,kemudian berjalan lagi,hingga tiba di Taman Budaya.
Ternyata ia menemui teman-temanya sesamanya di sana.
Lihat itu,ia berjalan menyusuri pekarangan Student Centre IAIN IMAM BONJOL menuju gerbang kampus.Bersamanya dirasakannya sakitnya anak panah gunjingan dan cemoohan para senior yang mengenalinya.
Dengarlah petir menyambar-nyambar , memaki-maki bumi atas kebodohannya menghalau gelap,karena angin menyanyikan kasidah sunyinya dalam derunya.Namun dapatkahhujan melepas dahaga bumi pada pemujaan yang tiada henti.
Hingga setibanya di depan gerbang kampus,ia hendak menyetop angkutan kota,namun tak satupun yang berhenti.sampai secarakebetulan,ada penumpang yang ingin menaiki angkutan kota itu juga tak pelak lagi,serta merta ia menyerobot masuk menyesaki angkutan kota tersebut.
Tak ayal lagi,wajah sang pengemudi pun berubah.Ia takut akan kehilangan penghasilannya sebesar dua ribu rupiah.Ia duduk saja memandangi pemandangan musykil di kanan kiri jalan,tanpa menghiraukan pandangan penumpang-penumpang lainnya yang takut dan menghindarinya.
Sekali lagi di pasir beruban yang tak tersucikan,bukan maksudnya memulihkan dendam,karena memang daratan yang dulu memenggal hasrat lidah gelombang,namun bah telah melanda kota merah itu,begitu galaknya gelombang ombak tsunami itu memporak-porandakan,memusnahka
Inilah mungkin negeri yang tak terhimpun oleh kepala,hanya jerit.O. . . .alangkah indahnya dan nikmatnya nyeri yang menyelimuti suatu siang itu. . . .
Aku masih saja membuntutinya,memperhatikan gerak-geriknya hingga akhirnya ia pun turun di Taman Imam Bonjol.Ia berjalan mengitari padang hijau yang tetap hijau meski diterpa sinar matahari masih saja ia berjalan menawarkan payung kebeberapa pengunjung dan meminta uang sebesar seribu rupiah.Kontan saja para pengunjung bergidik geli dan memberikan saja uang sebesar seribu rupiah tanpa berhasrat untuk dipayungi olehnya.
Angin mengerat pepohonan palam,bergumam gamang di tengah sesal terakhir.Tangis karang mengabur karang tak menyatu dengan pasir langit,tak terkikis kelam.Tak akan menagis di tengah karang.
Ia kelelahan,berteduh di dahan yang rindang,namun seluruh ujung tombak mengarah padanya,segerombolananak-anak datang dan bertanya nama,tempat tinggal,umur dan sebagainya.Ia memilih diam,membuka ventilasi agar udara segar masuk.Namun seluruh bau busuk menyatu dan menusuk hidung.lambat laun,sepertinya ia terusik hingga membuatnya berteriak tak karuan dan membubarkan kerumunan,dan ia pun dapat duduk tenang menikmati sepoi angin membelai-belai kulitnya yang kusam dan kotor,bercengkrama dengan Tuhannya.
Dilihatnya penghasilannya belum cukup walau untuk melepas dahaga dan laparnya.Ia bangkit dan berdiri mencari pengunjung yang ingin dipayungi olehnya.Namun ,ada seorang gadis yang tak ingin dipayungi,juga tidak memberinya uang.Ku lihat iasepertinya terus berusaha agar wanita tadi mau dipayungi dan memberi imbalan atas jasanya.
Sehingga ada seorang pengamen yang iseng mencoleknya,sontak saja ia menendang si pengamen dan langsung dibalas dengan pukulan gitar di daerah sekitar punggungnya.
Bukan karena bulan sabit mengarit rumputpada tanah yang kemarau ini.Tapi lidah tak bertali menjulur dari bongkahan tanah.
Tak menyerah sampai di situ,ia pun mencari pengunjung yang berhati mulia memberikan sebagian hartanya walau hanya seribu rupiah saja.
Akhirnya,ia temukan juga sekumpulan keluarga yang mungkin lagi syukuran di Taman Imam Bonjol Padang,jelas saja tak ayal lagi didatanginyalah sekumpulan keluarga tadi,dan lagi-lagi ia menawarkan payungnya kepada setiap orang tadi,namun dilarang,dan diajak makan bersama mereka.
Disantapnyalah nasi disiram dengan sup yang pada mangkioknya terpampang jelas label KFC,setelah lepas dahaga dan laparnya,ia pun berpamitan.Tanpa ia duga,ia mendapat beberapa uang seribuan dan dua ribuan dari beberapa pengunjung tersebut,dan juga oleh-oleh berupa roti dan ayam kentucky + nasi.
Benar-benar riang terpampang jelas di raut wajahnya,ia pun berjalan menuju jalan raya dan menyetop angkot,lagi-lagi ku ikuti dia dan aku pun ikut bersamanya duduk di sampingnya.
Sudah ku lipat tetesan senja dan keringat berasa akan ku titipkan padanya angin darat menua selipkan di biru langit yang diam,barangkali dia akan menjenguk sejenak tepian laut yang hambar garam.Karena lelahnya sudah demikian mengkarang tiap kali telanjang pandang dari bilik kebutaan tiap kali telanjang pandang dari bilik kebutaan pada arus kali yang turun dari lembah.
Ternyata ia pun turun di Taman Melati,sesampainya ia di sana,ia mencari mainan,diambilnya ranting pohon yang sudah ditebang,kemudian berjalan lagi,hingga tiba di Taman Budaya.
Ternyata ia menemui teman-temanya sesamanya di sana.
magma yang manis
Cawan-cawan itu
Terdampar kaku
Dilapisi coklat berbalut
Ada sepuluh jari
Merenanginya dengan busa sekali
Lalu mengguyurnya kembali
Kinclong,
Ya,cawan kinclong
Dituangi teh dan gula
Juga air belerang
Pusaran tornado pun terbentuk
Meniadakan gula
Menjadikan teh bangga
Ia tersaji hangat dan manis
Langganan:
Komentar (Atom)